 | living as a girl like L-I-N-D-A | Jan 29, 2008 |
L-I-N-D-A : 20 year old girl living in Jakarta; a full time uni student now; mhasiswi semester 6 FE yg terinspirasi oleh kolumnis masalah sex&love Carrie Bradshaw untuk menulis stuff related to women; hobinya membaca buku seblm tidur, doing cardio di gym, ntn bioskop, menari, and clubbing; her passion is for fashion dan percaya dengan konsep ‘a women’s right to shoes’ =p ; is a feminist dan suka mengeksplor sisi feminitas dlm dirinya; easy going,mudah berteman,murah senyum namun terkadang sedikit keras kepala dan judes; a bit ‘hormotional’ during PMS dan terkadang suka menyalahkan hormon atas emosinya; ordinary girl yang tidak luput dari kekurangan; bukan perempuan religius dan beranggapan bahwa tradisi gereja sangatlah konservatif but she loves Jesus very much; actually is not as introvert as people think she is ; is dying to be a NYer; percaya bahwa profesi ideal baginya adalah seorang editor majalah fashion hihi ckck but somehow she thinks that being an auditor or a tax consultant suits her the best in the most proper,realistic,and logical way hehehe ; rindu utk berenang di sungai di Kalimantan; cita-citanya sederhana hanya ingin menjadi seorang auditor namun kerap berangan-angan utk menjadi guru sekolah di pedalaman Indonesia; berharap suatu hr nanti dpt menonton langsung pertandingan derby AC vs InterMilan di Stadion San Siro,Milan; percaya atau tidak she never hates anyone for sure; sumtimes lebih prefer utk sharing private stuff tertentu dgn orang yang tidak dikenalnya.... =) “We can discover the meaning of life in three different ways: by doing a deed; by experiencing a value; and by suffering.”  | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | John Perkins |
Humm.. Buku ini menakjubkan. Buku ini ibarat catatan harian penulis yang pernah bekerja sebagai seorang economic hit man, begitulah penulis lebih prefer menggambarkan profesinya itu. It’s a one-stop reading book. It's a spy novel! Membaca halaman demi halaman sanggup membuka mata kita akan keadaan ekonomi global yang seluruh subsistem pendukungnya menjadi lahan incaran untuk dikuasai oleh negara-negara maju terutama Amerika. Buku ini menggambarkan keserakahan Amerika Serikat membantai ekonomi negara-negara miskin dan bekembang demi kepentingan negaranya itu. Indonesia yang dipenuhi dengan kekayaan alam tidak luput dari negara korban keserakahan itu. Menariknya, Mr.Perkins menulis tentang Indonesia dalam kunjungannya pada akhir tahun 70an dalam beberapa bab di bukunya. Saat itu Mr.Perkins datang dalam misi pembangunan power plant di dekat Bandung, Ja-Bar. Mr.Perkins juga bekerja sebagai seorang analis pada lembaga bantuan moneter internasional. Lembaga-lembaga internasional semacam ini umumnya mempekerjakan analis-analisnya untuk memberikan analisa palsu yang menjustifikasi suatu proyek antara negara berkembang dengan negara maju. Kemudian mendorong negara berkembang untuk menerima proyek walaupun lembaga yang bergerak seolah-olah sebagai intermediasi tersebut tahu bahwa negara berkembang tsb tidak akan pernah mampu untuk menyanggupi apa yang tertera dalam kontrak. Dalam kata lain, ia akan tahu proyek seperti ini akan gagal. Dan setelah proyek itu gagal dalam beberapa tahun ke depan, negara berkembang terpaksa melepaskan sejumlah aset-aset bumi pentingnya sebagaimana diisyaratkan jika terjadi wanprestasi. Begitulah bagaimana lembaga keuangan ini bekerja: menjustifikasi analisa kelayakan proyek yang menguntungkan bagi negara tertentu. EHM bekerja melalui suatu konspirasi ekonomi yang mematikan. Semua tindakan dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan petinggi organisasinya: pembunuhan presiden serta pejabat penting yang terkait, perang yang berkepanjangan, dan berbagai intrik lainnya. Saya tidak tahu apakah buku ini sudah diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia. But I simply recommend this book to all of you. It’s worth reading.
 Jakarta, 2 Mei 2008 Aku sedang berada di tempat dalam keadaan sehat. Namun aku tidak ingin berbohong padamu, sebenarnya aku berada dalam kondisi batin yang sedikit menjerit. Aku berada di kondisi ini adalah akibat peristiwa – peristiwa masa lalu yang kemarin kembali lagi menghantuiku. Kemarin aku bermimpi, tapi bukan tentangmu, kasih. Dan hari ini aku kembali terpuruk akan kenangan masa lalu itu. Aku sadar mungkin tidak adil bila aku menceritakan kepedihanku padamu, karena ku tahu kau sedang berada dalam masa-masa sulitmu di sana. Janganlah kau merisaukan aku, kasih. Beberapa hari lalu aku bertemu dengan Sherly, teman masa kecilku yang pernah aku ceritakan padamu. Aku tersentak mendengar berita tentangnya. Ia berkata padaku bahwa ia telah bercerai dengan suaminya. Bagiku predikat janda sangatlah asing di telingaku sedari kecil. Keluarga, kerabat, maupun teman-temanku di Kalimantan dulu hampir tidak ada yang bercerai. Sherly sekarang seorang janda berusia 24 tahun dengan seorang anak perempuan lucu berumur 2 tahun. Aku sedih mendengar kabar tentangnya. Namun, ia menyuruhku untuk tidak bersedih atasnya, karena baginya itu adalah jalan yang ia pilih sendiri. Suami Sherly sangat mencintainya. Suaminya adalah seorang pria baik yang mapan dalam segala aspek untuk menghidupinya. Ia mungkin terlihat seperti seorang perempuan yang telah berhasil mendapatkan semua yang dapat dimimpikan oleh semua wanita manapun. Namun, ternyata tidak demikian adanya. Sherly sadar di usianya yang ke-23 bahwa bukan itu yang ia cari dalam hidupnya. Bukan itu yang ia mimpikan selama ini. Dan ia merasa bahwa tidak mungkin dapat mencapai apa yang ia mimpikan bila ia terikat dalam hubungan rumah tangga dengan suaminya di kota kecil bernama Pontianak. Maka, ia terpaksa membuat keputusan terberat dalam hidupnya dengan bercerai dari sang suami tercinta. Sherly mengaku ia dihujat baik oleh keluarganya maupun keluarga suaminya. Ia melawan semua orang yang menentang keputusannya. Selain itu ia mengaku bahwa mimpinya harus ia bayar dengan mahal : anak perempuannya mungkin akan kehilangan kasih sayang dari sosok ayah tercinta. Sherly bukan sekedar melihat kebahagiaan belaka dalam mimpinya, ia tetap membuka mata terhadap realita hidup yang ada: tidak ada yang sanggup menggantikan cinta yang dapat diberi seorang ayah kepada anaknya. Namun, Sherly tetap teguh akan keyakinannya untuk berpisah dengan suaminya. Sejatinya aku menyebut Sherly sebagai seorang pemimpi. Karena begitulah ia sedari kecil aku mengenalnya. Ia tidak pernah takut bermimpi. Sherly merupakan seorang pendobrak. Ide-idenya selalu menentang segala batasan yang kita buat sendiri. Against all odds, against all logics, against all rules, against all boundaries. Aku mempunyai alasan khusus kenapa aku bercerita padamu tentangnya. Aku sangat merindukanmu. Walaupun kau baru 10 hari di Yogyakarta namun hari-hari telah kulalui dengan rindu yang mendalam. Hari ini aku banyak memikirkanmu. Surat ini rencananya akan kuselip ke dalam laci meja kantormu agar kau dapat membacanya sepulang ke Jakarta. Namun tahukah kamu, saat kemarin aku pergi ke kantormu untuk memastikan bahwa aku dapat menyelip surat ke dalam lacimu keesokan harinya, aku melihat satpam penjaga mulai memperhatikanku. Mungkin ia mulai curiga akan maksudku di sana. Aku mulai dihantui perasaan was-was. Rasanya hubungan kita perlahan-lahan membuatku paranoid. Perasaan itu membuatku kembali ragu akan hubungan kita. Seminggu ini aku sibuk akan rutinitasku dan bayangan pikiranku sendiri. Seminggu aku menenggelamkan diri dalam mutiara kehidupan yang sulit terselami karena rutinitas hidup yang mengikat dan menutup mata. Seminggu yang sanggup membawa pengalaman intan dan menciptakan berlian dari sebongkah batu tambang, sungguh mengubah sesuatu yang telah sangat mendasar mengisolasi dan membutakan. Seminggu yang tanpa berlebihan harus dikatakan istimewa meski hanya himpunan hari-hari yang biasa dengan aktivitas wajar namun menembus batas. Maafkan aku bila akhir-akhir ini tidak mengangkat telpon atau membalas pesanmu. Aku butuh ruang dan waktu. Biarkanlah aku sendiri memikirkan diriku dahulu. Sejujurnya aku kembali bimbang akan semua hal yang telah kita lalui bersama. Aku tidak yakin apa benar ini yang terbaik. Atau bahkan aku berpikir apa ini yang aku mimpikan sedari dulu. Aku tidak ingin seperti Sherly yang baru menyadari mimpinya pada saat semua menjadi begitu lengkap dan selayaknya indah, dan kemudian harus mengorbankan kebahagiaan orang-orang tercintanya demi mimpinya semata. Mungkin aku harus memikirkannya terlebih dahulu. Dan sementara itu, ada baiknya bila kamu kembali menilai ulang keputusan yang akan kamu ambil di sana. Aku sepenuhnya akan menghormati dan menghargai keputusanmu. Mungkin satu hal yang perlu kau sadari: aku masih muda, segala sesuatu masih dapat terjadi padaku. Mimpiku segar dan muda serta mungkin sanggup membawaku kemana pun ku ingin, aku berharap kau tidak berekspektasi tinggi terhadapku, kasih. Sejujurnya terkadang aku berpikir mungkin istrimu adalah kunci dari ketidakbahagiaan rumah tanggamu selama ini. Mungkin ia kunci yang harus kamu simpan dan jaga, bukan untuk dibuang. Pertimbangkanlah itu, kasih. Aku akan terus memikirkanmu, sekalipun dalam hari-hari yang kacau ini, tetap padamu dan menyertaimu. Aku berharap Tuhan akan melindungi cintaku selamanya, Dempsey. Aku merasa semakin dan semakin dekat kepadamu dalam waktu yang kacau balau ini.
Sayang dan ciuman, selamanya. ’Linda My quote of the day : “Dibutuhkan keberanian dan pengetahuan yang sangat besar untuk menatap diri anda sendiri di cermin dan melihat ke dalam, karena kita sangat pandai menyembunyikan bagian dari kita yang tampaknya terlalu menyakitkan untuk diakui.” If I should stay Well, i would only be in your way. And so I'll go, but I know That I'll think of you Each step of my way. Bittersweet memories, That is all I'm taking with me. Goodbye, ow please don't cry. 'Cause we both know that I'm not what you need. And I hope life will treat you kind And I hope that you'll have All you've dreamed of. Oh I do wish you joy And I wish you happiness. But above all yes, I wish you love. ‘dedicated to my Dempsey (as quoted from the song ‘I will always love you’ by W.Houston) My quote of the day : “Meskipun mungkin kau tidak mengetahuinya, hidupmu dan hidup orang-orang yang dekat denganmu dipertaruhkan saat kau memilih, entah berjalan lurus atau berbelok.” Walk Him Home Aku melihatnya malam itu, dari kejauhan tepatnya. Aku melihatnya berjalan melewati sekelompok manusia berkeringat yang sedang sibuk mempersiapkan bakti sosial di pelataran depan kampus. Senyum terkembang dari bibirnya ketika para mahasiswa tersebut menyapanya. Ia pria yang tidak pernah absen melempar senyum pada siapapun yang menyapanya. Senyumnya ramah, anggun, namun terkadang cengengesan. Senyumnya secara implisit mencerminkan kematangan dan kebijaksanaan pribadi seorang pria. Senyumnya sanggup menenggelamkan segala citra kepedihan yang selalu kulihat semenjak ia berterus terang padaku. Senyumnya seakan-akan merupakan kamuflase belaka untuk menutupi berbagai permasalahan hidup yang menimpanya.
Hari itu adalah hari yang tidak biasa. Karena sudah lama aku tidak melihatnya. Ia mengenakan kemeja biru di balik blazer hitam yang melindunginya dari terpaan angin. Ia berjalan menenteng tas bertuliskan Toshiba di tangannya. Dan di punggungnya, ia pikul ransel hitam yang isinya adalah file-file audit pekerjaan kantor. Aku kenal pria ini dengan baik. Ia terlihat seperti pria yang menempatkan pekerjaan pada posisi utama dalam prioritas hidup. Namun, aku yakin sebenarnya tidak demikian adanya. Pekerjaan mungkin merupakan caranya untuk mengalihkan pikirannya saja. Aku tahu ia kerap dilanda kesepian. He is emotionally available, but relational unavailable. Ia berjalan ke luar gedung kampus. Tidak sedikitpun aku berfirasat akan melihatnya malam itu, aku hanya sanggup menatapinya diam-diam dari tempat dudukku di balik dedaunan yang ditanam di pelataran parkir depan kampus Ia menyusuri jalan setapak demi setapak, tidak menyadari keberadaanku di sekitarnya. Kepalanya sekarang menunduk ke bawah, menatap setiap langkah kaki yang ia ambil. Sehabis mengajar di kelas sore, ia gemar mengurung diri di kantor. Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menanti malam yang dingin. Ia sudah terbiasa dengan terpaan angin malam yang terkadang dapat lembut menyapa. Baginya itu adalah saat yang ideal untuk memulangkan diri ke rumah mengistirahatkan jiwa dan raganya. Tidak ada seorang pun yang menanti pria ini di rumah. Sudah lama istrinya meninggalkannya untuk studi di luar kota. Malam yang dingin, hampa, dan sepi adalah teman baiknya sekarang. Aku kaget saat melihatnya. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Aku ingin menyapanya sebenarnya. Ingin kupeluk tubuhnya dari belakang . Mencium bau keringatnya yang bercampur dengan wangi alami badannya. Mencubit hidungnya yang kerap mengembang. Menjambak nakal rambutnya yang masih tersisir rapi. Mencium pipinya yang berminyak. Mengulum jarinya yang sekarang tersemat cincin sakral. Menemaninya pulang ke rumah. Mencoba menghiburnya. Membekapnya tidur. Terlebih aku ingin meminta maaf padanya. Memohon pengampunannya atas ketidaksanggupanku menemaninya menjalani hari. Kubayangkan bila diriku berani menyapanya, Menyergapnya dari belakang, Ia pasti akan kaget melihatku, Ia pasti tidak sanggup berkata apa pun, begitu juga denganku. Mungkin butuh waktu baginya agar ia dapat mencerna situasi itu. Mulutnya pasti akan keluar berjuta kata yang ingin ia sampaikan padaku. Namun, kubayangkan bibirnya pasti akan kututup dengan jariku. Menyuruhnya diam tanpa usah memberikan penjelasan apapun. Aku tidak butuh penjelasan lagi, aku mengerti dengan keadaannya. Tapi ia juga harus mengerti diriku yang tidak bisa menerima keadaan itu. Aku ingin meraih lengannya, menggenggam tangannya dengan tanganku, Kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh. Aku ingin ketenangan tanpa suatu suara yang keluar dari mulut kami, tidak dibutuhkan kata-kata untuk melepaskan rasa. Aku ingin menemaninya berjalan menyusuri malam yang terkadang angkuh dan kejam. Aku hanya ingin menemaninya pulang saat itu. I just wanna walk my love home. Hanya ini yang aku ingin malam itu. ‘Linda Pumpkin Oficially missing u...
My quote of the day : “The thing is.. There are some things we DON'T admit because we just don't like the way it sounds.”  | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Andrea Hirata |
LAGI-LAGI Andrea Hirata kembali mempesona pembaca buku Indonesia dengan lantunan kisah kehidupannya yang menggugah, sporadis, namun indah. ‘Sang Pemimpi’ merupakan buku kedua dari tetralogi ‘Laskar Pelangi’ karyanya. Aku sudah membeli buku ini sejak bulan lalu. Namun, baru sekaranglah aku membacanya. Aku lebih prefer membaca bukunya di saat spare, dibanding membacanya di sela-sela kesibukan kuliah dan kerja. Oleh karena itu, aku baru membacanya setelah resign dari pekerjaanku. Tidak berlebihan rasanya bila dikatakan bahwa membaca buku karya Andrea memang memerlukan waktu khusus. Pukul 1 malam sebelum tidur merupakan waktu ideal bagiku untuk membaca karyanya yang menggugah, lucu, inspiratif, dan penuh dengan pesan moral.
Pada buku keduanya, Andrea kembali menceritakan memoar kehidupannya yang beranjak remaja dengan lagi-lagi mengelola ironi menjadi parodi jenaka. Andrea memang luar biasa. Aku kagum dengan bagaimana ia sekarang menjadi seorang penulis yang paling diperbincangkan di komunitas buku Indonesia, padahal ia tidak punya latar belakang sastra atau pengalaman menulis sebelumnya. Ia tidak pernah menerbitkan buku sebelumnya, menjadi penulis freelance yang professional, atau bahkan menulis cerpen singkat. ‘Laskar Pelangi’ merupakan karya pertamanya yang langsung menjadi buku fenomenal. Pada buku ‘Sang Pemimpi’, Andrea menggunakan istilah mozaik untuk menggambarkan setiap potongan-potongan perjalanan hidupnya dalam menantang nasib. Buku keduanya ini memang cenderung tipis dibanding dengan buku pertamanya. Buku ‘Sang Pemimpi’ seakan-akan hanyalah merupakan jembatan pendek persinggahannya atau layaknya sebuah pendahuluan untuk benar-benar bercerita tentang passion-nya dalam pencapaian mimpi yang akan ia ceritakan pada buku ketiganya, ‘Edensor’.
Bab yang paling aku kagumi dari buku ini adalah : ‘Baju Safari Ayahku’. Aku menangis haru saat membacanya. Bahkan aku sempat membaca di kickandy.com bahwa bab inilah yang membuat seorang drug-addicted junkie terinspirasi untuk berintropeksi dan kemudian memperbaiki hubungan dengan ayahnya. Andrea sangat pintar mengelola hal-hal sederhana menjadi hal-hal yang luar biasa menyentuh. Itulah kelebihannya. Di bab ini, Andrea menceritakan kronologis persiapan ayahnya bila pria tua tersebut bersiap-siap menghadapi hari yang paling bahagia baginya : hari pembagian raport anaknya. Bahkan, Andrea menceritakannya dengan sangat detail. Hal-hal simple itulah yang sanggup dikelola Andrea menjadi suatu cerita yang sangat mengharukan dengan deskripsi yang kuat dan syarat dengan pesan moral akan kehidupan. Setiap bab dalam buku ini mengandung letupan intelejensia dan spiritualitas. Andrea tipikal orang yang melihat fenomena-fenomena kecil di sekitar dengan suatu sudut pandang yang berbeda, yang tidak pernah dilihat oleh orang lain.
Membaca karya-karyanya membuatku ingin berkomunikasi langsung dengan penulisnya hehehe. Dan tadi pagi kakak perempuanku yang kebetulan seorang jurnalis menawariku nomor telepon genggam Andrea! Well, tawaran yang tempting memang. Namun, untuk apa? Lagi pula melalui buku-buku karya master piece-nya, Andrea sudah dapat melakukan suatu bentuk komunikasi berkualitas tinggi dengan para pembaca buku di Indonesia. Aku menunggu buku terakhir dari tetralogi ini terbit. Tidak sabar rasanya menanti ceritanya menaklukkan Eropa.
 GWEN STEFANI
"Cool"
It's hard to remember how it felt before Now I found the love of my life... Passes things get more comfortable Everything is going right And after all the obstacles It's good to see you now with someone else And it's such a miracle that you and me are still good friends After all that we've been through I know we're cool We used to think it was impossible Now you call me by my new last name Memories seem like so long ago Time always kills the pain Remember Harbor Boulevard The dreaming days where the mess was made Look how all the kids have grown We have changed but we're still the same After all that we've been through I know we're cool And I'll be happy for you If you can be happy for me Circles and triangles, and now we're hangin' out with your new girlfriend So far from where we've been I know we're cool
“Jika panggilan nasibnya memang harus menjadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu merah empat puluh kilometer mematahkan semangatnya.” Rasanya saya hari ini telah berdosa. Saya telah mengkhianati Pramoedya Ananta Toer dan Paulo Coelho dengan jatuh cinta pada Andrea Hirata. Seharusnya saya menulis kolom ini di bagian review, namun saya lebih prefer menulisnya di bagian blog. LUAR BIASA. Hanya kata ini yang tepat menggambarkan buku “LASKAR PELANGI” karangan Andrea Hirata. Sedari dulu, saya telah membaca berbagai buku baik itu karangan penulis Indonesia maupun mancanegara. Tapi, tidak banyak yang meninggalkan footprint di hatiku. Apalagi akhir-akhir ini banyak beredar buku-buku metropop Indonesia di pasaran yang kurang bermutu, hanya cover depannya saja yang menunjukan peningkatan mutu grafis. Namun, rasanya baru kali ini ada sebuah buku yang berhasil mengaduk-aduk perasaanku seperti ini, membuatku menangis, marah, kesal, sekaligus tertawa. Andrea Hirata berhasil menulis sebuat master piece yang menggugah dan menyentuh. Novel ini dipersembahkan bagi mereka yang yakin akan the magic of childhood memories, dan khususnya buat siapa saja yang masih percaya akan adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia : “pendidikan”. Buku ini sangat inspiratif, mengisahkan pengalaman masa kecil penulis dan kesepuluh teman-teman kecilnya yang dinamai ‘Laskar Pelangi’ dalam berusaha mengenyam pendidikan di suatu sekolah kampung yang miskin, Sekolah Muhammadiyah. Novel ini telah mengubah pemikiranku akan suatu konsep yang tidak pernah saya percaya sebelumnya : “nasib”. Buku ini penuh dengan metafora. Andrea Hirata sangat ahli dalam hal permainan kata-kata. Jenaka dalam ironi tepatnya. Benar kata komentator lainnya, buku ini membuat kita trance menyaksikan berbagai babak kehidupannya yang menggugah. Buku ini berlatar belakang di suatu desa terpencil di Belitong, Sumatera. Belitong merupakan daerah pertambangan timah, di mana sebagian besar penduduk suku lokalnya bekerja sebagai buruh atau kuli pertambangan maupun nelayan. Well, berhubung saya punya seorang teman yang pernah bekerja sebagai auditor di Freeport, Irian Jaya setidaknya saya menjadi sedikit tahu akan kondisi daerah pertambangan : TIMPANG. Yup, kesenjangan sosial tepatnya. Perusahaan pertambangan umumnya memanjakan para pegawai manajemen level menengah sampai atasnya dengan gaji yang tinggi dan berbagai fasilitas mewah sebagai kompensasi problem akibat masalah geografis. Eksekutif mana yang ingin bekerja di suatu pedalaman terpencil jika tidak diberi gaji di atas rata-rata melebihi karyawan setaranya yang bekerja di kota besar ataupun jika tidak diberi kompensasi berupa fasilitas mewah. Temanku pernah bercerita betapa dia dimanjakan saat bekerja di Freeport dengan masakan chef yang didatangkan langsung dari Eropa, wine dengan kualitas terbaik, dsb. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi masyarakat lokal yang luar biasa miskin. Bahkan ada suatu dinding pemisah antara para karyawan petinggi perusahaan pertambangan dengan masyarakat lokal. Dinding itu bahkan bukan dinding abstrak melainkan dinding brick and concrete. Ada suatu tembok tinggi dan tebal yang melindungi kantor, perumahan, dan sekolah sehingga memisahkan mereka dengan komunitas luar. Di dalam tembok itulah segala impian dan harapan dapat tercapai, sayangnya hal itu ada di luar jangkauan anak-anak Laskar Pelangi masyarakat Melayu Belitong. Ketimpangan inilah yang terjadi di Belitong. Namun, bukan hal ini yang menjadi inti utama dari buku Laskar Pelangi. Andrea berusaha mengisahkan dedikasi dua orang gurunya dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan dengan paham Islam pada murid-muridnya yang hidup melarat dengan kemiskinan yang tampaknya tidak dapat dipisahkan dari mereka seumur hidupnya. Saya menangis tak karuan saat membaca bab 30 dengan judul “Elvis has left the building”. Saya tidak sanggup membayangkan Lintang yang tak hentinya dipermainkan oleh nasib. Kegigihannya dalam mengayuh sepeda bututnya setiap hari menerjang hutan tanpa henti menempuh jarak 80km ke sekolah, kejeniusannya memecahkan rumus-rumus fisika sehingga meningkatkan martabat sebuah sekolah kampung yang miskin saat beliau behasil membawa sekolah Muhammadiyah memenangkan lomba cerdas cermat tingkat daerah, dan impiannya menjadi seorang ahli matematika terpaksa berhenti saat maut menyebabkan ajal menjemput seorang nelayan miskin ayahnya tercinta, sang penopang hidup 14 orang anggota keluarganya. Lintang terpaksa berhenti sekolah tepat 4 bulan sebelum beliau menamatkan SMP dan langsung bekerja full sebagai kuli kopra demi menafkahi keluarga. Kematian ayahnya membunuh cita-cita agung anak tersebut. Lintang merupakan anak Laskar Pelangi pertama yang terpaksa menyerah pada nasib. Banyak nilai yang dapat diambil dari buku ini : perjuangan, semangat, dedikasi, kerendahan hati, integritas, tekad, dan persahabatan. Buku ini mengobarkan semangat bagi mereka yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan agar berani bermimpi melawan nasib, berani memiliki cita-cita. Pendidikan adalah sebuah enigma, sebuah misteri kehidupan. Novel ini dikisahkan secara realis dengan pendekatan scientific. Laskar Pelangi membuat kita memandang kemiskinan dengan cara yang lain. Buku ini berhasil membuatku non stop membaca 24 jam tanpa dipotong istirahat tidur sama sekali. Membaca buku ini membuatku ingin bertemu dan berkenalan secara personal dengan kesepuluh anggota laskar pelangi. Buku ini merupakan buku pertama dari tetralogi karya Andrea. Saya sudah tidak sabar membaca buku lanjutan keduanya yang berjudul : “Sang Pemimpi”.Terlebih saya sudah tidak sabar untuk mengetahui bagaimana dan ke mana nasib akan membawa Andrea dan teman-teman. “Mungkin ia lebih berhak hilir mudik ke luar negeri, mendapat beasiswa bergengsi, dibanding begitu banyak mereka yang mengaku dirinya intelektual tapi tak lebih dari ilmuwan tanggung tanpa kontribusi apa pun selain tugas akhir dan nilai-nilai ujian untuk dirinya sendiri. Aku ingin membaca namanya di bawah sebuah artikel dalam jurnal ilmiah. Aku ingin berkata pada setiap orang bahwa Lintang, satu-satunya ahli genetika di Indonesia, orang yang telah menguasai operasi pohon Pascal sejak kelas satu SMP, orang yang memahami filosofi diferensial dan integral sejak usia sedemikian muda, adalah murid perguruan Muhammadiyah, temanku sebangku. Namun, hari ini Lintang ternyata hanya seorang lelaki kurus yang duduk bersimpuh menunggu giliran kerja rodi. Aku teringat lima belas tahun lalu ia memejamkan matanya tak lebih dari tujuh detik untuk menjawab soal matematika yang rumit atau untuk meneriakkan Joan d’Arch! Merajai lomba kecerdasan, melejitkan kepercayaan diri kami. Kini ia terpojok di bedeng ini, tampak yakin akan masa depannya sendiri. Aku sering berangan-angan ia mendapat kesempatan menjadi orang Melayu pertama yang menjadi matematikawan. Tapi angan-angan itu menguap, karena di sini, di dalam bendeng tak berpintu inilah Isaac Newton-ku berakhir. “Jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tak jadi nelayan.” Dan kata-kata itu semakin menghancurkan hatiku, maka sekarang aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan."
' Andrea Hirata - Laskar Pelangi
| Start: | Mar 20, '08 11:00p | | Location: | BLOWFISH |
Awalnya saya sempat geli juga mendengar tema acara campuz nite kali ini. hahaha. Terdengar a lit bit cheesy rsnya. But dari observasi pengalaman saya menghadiri berbagai acara clubbing yg diadakan berbagai kampus di jakarta, campuz nite untar selalu berlangsung sukses bila dicanding campuz2 lainnya (tanpa bermaksud subyektif). Well, terutama dari segi crowd. Selain itu, campuz nite oleh Uni Indonesia (UI) setahun lalu juga patut diacungin jempol. Well, i cant wait to party tomorrow. Sepulang kerja (yup saya tetap ngantor walaupun hari libur T_T, ngejar deadline spt pajak Y_Y), I'll go straight to menara mulia to hit the club. Let's hav sum party folkz! Tuesday, 18-3-2008 (9PM) As I decided yesterday, today is just all about fun. Well, ice-skating memang cara melepas stress yang manjur. I had a great fun this morning skating all over the ice ring with some of my close friends. Saya off dari kerja hari ini. Sepulang kuliah pagi tadi, I went straight to a mall to hit the ice ring to have some fun, getting my self away from the stressful problem that have already stucked my mind for days. Sepulang dari ice skating, saya mendapat telpon dari teman lama saya semasa SMA yang kebetulan sedang bermain ke Jakarta. Setelah mengobrol lama, kami kemudian berencana untuk bertemu muka di hari ini juga. Kami sudah lama sekali tidak bertemu, mungkin sudah 3 tahun saya tidak melihatnya. Saya kaget melihatnya tadi. She already changed, I mean from the way she looked and from the way she thought. Begitu juga menurutnya, saya pun sudah berubah jauh. We both are getting older perhaps T_T. We talked a lot. Kami banyak berbicara mengenai kabar dari teman-teman lama semasa SMA di Kalimantan dulu, baik itu teman-teman seangkatan maupun teman-teman di atas kami. Well, beragam kabar yang saya dengar darinya. Ada kabar mengenai A yang terpaksa menjadi single mom, B yang menjadi bandar narkoba, C yang stress berkepanjangan, D yang lulus dengan predikat cum-laude, E yang sukses dengan usaha perkebunannya, F yang merantau ke SanFransisco demi mendalami ilmu dancing contemporer-nya, maupun G yang terpaksa kawin lari karena absennya restu dari orang tua. Saya senang saat mendengar kabar gembira mengenai seorang teman lamaku yang telah sukses menerbitkan sebuah novel sastra terbitan Gramedia. Well, berhubung saya mempunyai kakak perempuan yang berkerja sebagai jurnalis koran berbahasa asing yang bernaung di bawah grup Gramedia, saya menjadi sedikit tahu bahwa sangatlah tidak mudah bagi seorang penulis agar bukunya dapat diterbitkan oleh penerbit sekelas Gramedia di Indonesia. Sebut saja namanya Budi. Budi merupakan perantauan dari kampung terpencil di pulau Kalimantan yang hijrah untuk melanjutkan studi SMA di Pontianak dulu. Saya ingat Budi sebagai kakak kelasku yang cenderung minder dengan teman-teman sekolahnya. Budi kaget dengan keadaan kota Pontianak saat itu. Latar belakangnya dari kampung terpencil di pedalaman Kalimantan membuatnya sempat shock tinggal di kota Pontianak yang menurutnya sangatlah metropolis. Padahal sebenarnya kota Pontianak sangatlah kecil, besarnya tidak lebih dari kawasan Kelapa Gading di Jakarta bila saya boleh sedikit berasosiasi. Namun dengan ketangguhannya dan tekadnya agar dapat sukses di kota, Budi berhasil beradaptasi dengan Pontianak. Setelah tamat dari SMA, Budi melanjutkan studinya ke Jogjakarta. Semenjak dia lulus kuliah saya sudah tidak mendengar kabar darinya sama sekali. Seperti sebagian author lainnya, Budi menerbitkan novel dengan nama samaran. Kabarnya, Budi lebih prefer tidak dikenal oleh para jurnalis sastra di Indonesia. Saya turut berbahagia mendengar kabar Budi yang telah sukses menaklukkan rasa takutnya dan kemudian sukses menjadi seorang penulis. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah kabar mengenai seorang temanku yang baru saja membuat keputusan krusial dalam hidupnya dengan memilih menekuni basket sebagai profes inya. Sebut saja namanya Mario. Saya memang telah lose contact dengan Mario selama 2 tahun terakhir ini. Mario merupakan mantan pujaan hatiku semasa SMA dulu. Sebagai salah satu penggemar basket sekolah dulu, saya sempat sangat mengidolakan Mario. Saya selalu kagum melihatnya bermain basket di setiap laga pertandingan kejuaraan antar sekolah dulu. Saya sempat mendengar mengenai kabar bahwa kemungkinan Mario akan lebih memilih berkarir di IBL dibanding menjadi entrepreneur seperti yang bokapnya anjurkan. Karir IBL di Indonesia dipandang oleh banyak orang tidak dapat menjajikan sesuatu bagi masa depan pemainnya sendiri. Keputusan Mario untuk menekuni basket secara professional juga mendapat kecaman dari orang tuanya berikut tanggapan negative dari orang-orang terdekatnya. Sebenarnya, saya tipikal perempuan yang cenderung skeptis terhadap profesi-profesi seperti pebasket or pemusik misalnya. Namun, berhubung saya sempat menjadi kaum hippy bagi pebasket sekolah dulu, saya dapat memahami apa yang mungkin dirasakan Mario saat menetapkan keputusannya. Bagiku, it’s worth the sacrifice to be a pro basketball player. Saya ingat beberapa hari lalu saat mendapat undangan dari client menghadiri seminar dengan speaker utama seorang motivator ternama, Darmadi Darmawangsa. Beliau sempat mengangkat topik mengenai “core desire”. Darmadi berkata bahwa hampir semua orang memiliki ‘core desire’ dalam hidupnya. Saya kemudian menarik korelasi dari konsep ‘core desire’ dengan keputusan Mario tersebut. Mungkin basket merupakan core desire baginya. Saya punya seorang teman (sebut saja namanya Willy) yang sempat bermain pro di ASPAC selama 2 tahun sebelum akhirnya memilih berhenti karena rendahnya bayaran bagi pemain. Bagi Willy, pengorbanan yang diberikan pemain tidak setimpal dengan pendapatan yang diterimanya. Jika saya boleh menarik kesimpulan dari apa yang dialami Willy, mungkin basket bukan merupakan ‘core desire’ bagi Willy. Orientasi income mungkin terkadang sempat menggoyahkan keputusan terhadap ‘core desire’ yang kita pilih. Namun, rasanya whatever the obstacles are, I guess there will no doubt for people to stand for whatever they love to do. This term refers to ‘core desire’ I guess. Identification of obstacle during the journey seems to be hard sometimes. But for people who have already found their passion in achieving core desire will take these obstacles as the challenge to boost up their spirit. And I guess it’s worth the sacrifice, hard work, and pain to achieve our dream. I think Mario has found his ‘core desire’ already. I am happy for him. Congratz for Mario. Well, that’s what I love from hanging out with old folk. I always come to know a lot of things bout my friends. Mizz them all… “You cannot dream yourself into a character; you must hammer and forge yourself one.”
 | pathetic | Mar 17, '08 1:02 PM for everyone |
Mon, 17-3-2008 (12.30AM) ‘Stress’ is the right word to describe my whole last week. Hanya kata itu yang dapat menggambarkan dengan tepat hari-hari yang kujalani minggu lalu. Mulai dari stress kerja sampai stress akibat masalah yang menimpa temanku. Tadi rasanya saya sudah menerima awal stress saya minggu ini. Sejam yang lalu saya baru saja mendapat sms dari temanku sendiri yang mengungkapkan perasaan sukanya padaku. Well, perkataannya padaku hanya menambah ‘beban rasa’ bagiku (begitu kata Dewa19). History ku selalu tidak bagus dengan teman-teman pria yang mengubah haluan perasaannya padaku. Saya capek bila stress akan berlanjut di minggu ini lagi. Stress kerja perlahan-lahan sudah dapat kutolerir berhubung hal yang sama mungkin menimpa seluruh auditor maupun konsultan yang bekerja di kantor akuntan publik maupun firma konsultan pajak di seluruh Jakarta pada bulan Januari sampai pada batas pelaporan spt pajak akhir Maret nanti. Namun yang sangat tidak saya harapkan adalah stress akibat masalah yang menimpa teman baikku minggu lalu. Sebut saja namanya Sasha. Saya pertama kali mengenal Sasha tepatnya 3 tahun lalu saat kami masuk ke Universitas yang sama dan kelas paket yang sama. Kami langsung dekat saat pertemuan pertama kami kenalan. Well, sebagai sesama mahasiswa baru yang berasal dari kota kecil dan kemudian merantau ke Jakarta untuk studi, kami merasa banyak persamaan di antara kami. Persamaan ini mungkin yang membuat kami dapat berteman dekat. Sasha kerap tidur di kos ku saat awal masa kuliah dulu. Sasha tipikal perempuan yang mudah merasa lonely, dia merasa lebih comfy berada di dekat teman. Well, awal pertemanan dulu saya merasa fine-fine saja menemaninya namun lama-kelamaan saya sudah mulai jenuh dengan sikapnya yang jauh dari mandiri itu. Saat memasuki tahun ke-2 kami kuliah, pertemanan saya dan Sasha sudah mulai merenggang. Mungkin Sasha juga sudah merasa tidak cocok berteman dengan saya yang lebih independent dan cenderung bersifat introvert terhadap masalah-masalah pribadiku. Namun renggangnya hubungan pertemanan ini tidak sampai menyebabkan kami memutuskan tali komunikasi. Bagiku, Sasha seperti adik kecil yang saya sayangi. Sasha berhenti kuliah saat masuk semester 4. Hal ini dikarenakan masalah biaya. Kemampuan financial orang tuanya tidak dapat meng-cover biaya kuliahnya di Jakarta. Sedih rasanya saat saya mendengar masalah ini dari mulutnya sendiri beberapa tahun lalu. Saat itu, Sasha bahkan hampir menelan 6 butir pil Neozep agar dapat melepas depresinya saat itu. Beruntung saya dan beberapa teman lainnya dapat mencegahnya melakukan hal bodoh itu. Sehabis masa depresinya itu, Sasha bekerja di bank di kawasan Kuningan dengan transkrip nilai palsu demi menafkahi dirinya sendiri. Sudah setahun saya dan Sasha tidak pernah menghabiskan quality time bersama lagi. Kami sudah sibuk dengan kesibukan kami masing-masing. Saya sibuk kuliah sambil bekerja, begitu juga dengan Sasha yang full bekerja. Saya kaget saat mendengar kabar tentangnya dari teman-teman kosnya beberapa hari lalu. ‘Sasha menjadi gila’, begitu yang saya dengar awalnya dari temannya. Sasha mengalami paranoid akut. Sasha merasa dirinya telah diguna-guna oleh teman terbaiknya sendiri. Selain itu, Sasha yakin bahwa dia merupakan utusan ilahi untuk menyelamatkan dunia. Sasha menyamakan dirinya dengan Mesias. Perilaku dan perkataannya pun mulai tidak masuk akal. Sasha kerap histeris seperti layaknya orang gila di kosnya. Ada beberapa spekulasi yang saya dan teman-teman buat untuk menjelaskan kondisinya. Ada spekulasi mengenai kemungkinan Sasha mengonsumsi drugs misalnya dari zat amfetamin sampai shabu, spekulasi tentang Sasha yang masuk ke aliran sesat, sampai spekulasi yang paling tidak saya harapkan : kemungkinan Sasha telah mengalami gangguan jiwa. Saya lebih berharap apa yang terjadi pada Sasha dikarenakan oleh zat-zat adiktif seperti amfetamin ketimbang Sasha telah mengalami gangguan jiwa. Saat SMP dulu sebenarnya saya pernah mengalami sedikit gangguan (walaupun tidak tepat seperti yang dialami Sasha) dikarenakan zat amfetamin. Saat SMP dulu saya dan beberapa teman pernah mencoba-coba untuk mengkonsumsi inex. Inex menggangu jiwaku untuk beberapa saat namun relatif tidak lama, hanya sebatas pada masa konsumsi dan beberapa saat pada masa addictive saja. Sedangkan dari pengalamanku menghadapi orang yang mengalami gangguan jiwa cenderung lebih memprihatinkan. Saya punya seorang tante (kakak nyokap) berusia 60tahun yang mengalami gangguan jiwa. Tante saya mengidap Skizofrenia sejak berusia 18tahun. Tante selalu mengalami paranoid akut. Tante sudah tidak dapat menggunakan akal sehat dan logikanya lagi. Tante sudah berpuluh-puluh tahun lamanya tinggal di suatu asrama yang fungsinya seperti rumah sakit jiwa di Kalimantan. Saya takut dan prihatin akan nasib Sasha. Saya jelas tidak ingin nasibnya berakhir seperti tanteku itu. Saat mendengar kabar tentang Sasha ini, saya dan teman baikku, Dewi langsung berinisiatif membawanya ke gereja untuk berkonsultasi menenangkan pikiran. Akhirnya saya berhasil meyakinkannya untuk pergi ke gereja. Sasha sudah tidak seperti teman yang saya kenal lama. Pikirannya nyangkut di suatu tempat. Her mind belonged to somewhere else, her soul was occupied by something that I don’t even understand. Sasha masih dapat berbicara, namun logikanya sudah tidak digunakan untuk berbicara. Di gereja, Sasha curhat denganku. Saya berusaha mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan teman yang saya sayangi itu. Sasha merasa dirinya berada di ambang kematian sehari sebelumnya. Saya pun bertanya apa yang menyebabkannya berpikir demikian. Sasha hanya menjawab : “Lin, lihat tanganku tersayat-sayat, tanganku berdarah-darah kemarin. Lihat bekasnya ini.” Saya tidak melihat ada bekas apapun di lengannya. Tangannya normal dan mulus tanpa ada bekas sayatan sedikitpun. Saat mendengar ini hatiku sedih sekali. Dalam hati, saya telah menyimpulkan bahwa Sasha telah menderita gangguan pada jiwanya. Karena merasa dipelet, beberapa hari sebelumnya Sasha langsung memilih pindah ke kos baru. Sasha mengaku bahwa teman-teman di kos barunya memberinya alkitab dan rosario sesampainya di kos baru itu. Awalnya, saya sempat mengira bahwa Sasha dicuci otaknya oleh teman-teman di kos barunya yang mungkin menganut aliran sesat. Sepulang gereja, saya berusaha berbicara dengan pembantu kos barunya itu untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi di tempat tersebut. Namun dari yang saya tangkap, anak-anak kos di tempat barunya tersebut bahkan merasa aneh dengannya. Sasha bertingkah seperti orang gila. Sasha kerap menangis histeris dan melantur perkataan-perkataan aneh. Kemudian saya berkesimpulan bahwa Sasha sudah tidak dapat membedakan realita dan pikirannya. Sasha telah berhalusinasi. Sasha bahkan berkata padaku bahwa dia datang ke dunia untuk menyelamatkanku dan dia bisa mengendalikan pikiranku. Sedih rasanya mendengarnya mengucapkan hal-hal aneh itu. Sasha telah kehilangan rasio pikirannya yang logis. Malam itu, saya menemaninya tidur di kosnya. Saya bolos kerja agar dapat memastikan bahwa dia tidak akan berpikir hal-hal aneh lagi. Sasha curhat padaku bahwa dia merasa tertekan. Sejak putus kuliah kemudian bekerja, dia menjadi penopang ekonomi keluarga. Selain itu, Sasha kerap merasa lonely. Sasha merasa tidak ada orang yang memperhatikannya. Sasha mengaku telah menjalin hubungan asmara dengan belasan pria. Namun, Sasha merasa pria-pria tersebut hanya menjadikannya sebagai pemuas nafsu belaka. Well, Sasha memang tipikal perempuan yang haus akan perhatian dan kasih sayang. Perhatian dari teman-teman dan keluarga sepertinya tidak akan pernah cukup baginya. Sasha kerap merasa insecure bila semua temannya mulai sibuk dengan urusan masing-masing dan mencuekinya. Setiap merasa lonely inilah, Sasha mulai mendengar suara-suara dari dalam dirinya yang kemudian mempengaruhi total pikirannya sekarang. Setelah kami mengobrol, Sasha pun perlahan-lahan mulai tenang. Karena kecapekan saya pun tertidur. Namun, kurang lebih sejam kemudian saya terbangun karena dikagetkan dengan suara histerisnya. Sasha tiba-tiba berteriak dan bertanya siapa saya. Saya kaget setengah mati dibuatnya. Sasha bahkan sepertinya tidak mengenali dirinya sendiri. Wajahnya seperti orang kesurupan. Badan Sasha kejang-kejang dan meronta-ronta. Saya pun langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat malam itu. Di rumah sakit, Sasha langsung dimasukkan ke ruang isolasi. Badannya bahkan diikat dengan jubah khusus. Saya shock sekali melihatnya, air mata pun bercucuran deras dari mataku. Saya tidak menyangka Sasha teman baikku saat awal kuliah itu akan berakhir di rumah sakit diperlakukan sebagai pasien gangguan jiwa. Sasha mendapat terapi dari dokter spesialis gangguan jiwa. Terapi awal yang tidak mempan, membuat dokter menghipnotisnya agar dapat beristirahat. Sasha sudah tidak tidur selama seminggu. Dokter memberinya obat tidur dosis tinggi agar beliau dapat beristirahat menenangkan pikiran. Besok paginya, saya dan temanku Dewi menjaganya seharian penuh. Kami menunggu keluarganya yang datang ke Jakarta dan berencana untuk membawanya balik ke kampung halamannya. Sasha mendapat terapi ke-2 dari dokter di siang harinya. Dari konsultasi, Dokter berkesimpulan bahwa Sasha menderita gangguan jiwa Skizofrenia dengan paham kebesaran atau keTuhanan. Sedih rasanya mendengar diagnosa dokter. Saya sadar dan prihatin dengan nasib Sasha ke depan karena saya akrab dengan kata Skizofrenia sedari kecil (sebagaimana tante saya pun mengidapnya). Hasil test darahnya pun negatif. Tidak ada zat adiktif dalam darahnya. Sasha tidak di bawah pengaruh drugs. Sasha telah mengalami gangguan jiwa. Saat ini, Sasha sedang berada di kampung halamannya untuk beberapa saat. Saya prihatin dengan nasib Sasha ke depan. Saya kecewa dengan teman-teman dekatnya yang tidak memperdulikannya lagi. Mereka lebih memilih menjauh darinya selama-lamanya. Padahal jelas Sasha lebih merasa dekat dengan mereka dibandingkan diriku. Penderita Skizofren sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat. Saya kecewa melihat teman-teman dekatnya yang tidak berniat memperjuangkan nasibnya sama sekali. Teman-temannya hanya berkata padaku bahwa mereka hanya dapat berdoa untuknya. Well, saya sangat tidak setuju dengan mereka. Menurutku, Sasha lebih memerlukan dukungan langsung teman-temannya dan bukan sekedar doa saja. Perilaku mereka yang lebih memilih menjauh tampaknya akan membuat Sasha semakin terganggu jiwanya. Namun, saya tidak dapat memaksakan pahamku kepada teman-temannya. Saya berharap keadaan akan membaik nantinya. Fuhhhh….. Saya telah menyelesaikan beberapa report di kantor tadi. Tumpukan kerjaan berkurang menjelang pelaporan spt minggu depan. Saya berencana memanjakan diriku besok. Setelah kuliah, saya memilih off dari kerja besok. I’ll go to skate tomorrow! Saya diajak teman-teman kampusku sesama penderita stress untuk ice skating ria demi menghibur diri kami masing-masing besok. Kemudian saya berencana tidur dan tidurrrrrrrrrr panjang sepulang dari ice-skating. Sudah tiga bulan rasanya saya kurang tidur Y_Y. Jika dulu saya dapat tidur 8jam sehari, namun semenjak saya bekerja saya hanya sempat tidur tidak lebih dari 5 jam sehari on the weekdays. Belum lagi stress berbagai masalah lain. Well, I had better go to bed now. Get ready to skate tomorrow, rewarding myself with joy and fun….. Expect trouble as an inevitable part od life and when it comes, hold ur head high, look it squarely in eye and say : “ I will be bigger than you.
You can not defeat me !!! ”
Ku berjalan terus tanpa henti dan dia pun kini telah pergi ku berdoa di tengah indahnya dunia ku berdoa untuk dia yang kurindukan memohon untuk tetap tinggal dan jangan engkau pergi lagi berselimut di tengah dingin dunia berselimut dengan dia yang kurindukan would it be nice to hold you .. would it be nice to take you home.. would it be nice to kiss you.. memohon untuk tetap tinggal dan jangan engkau pergi lagi bernyanyilah na na na na na bernyanyilah untuk dia yang kurindukan jangan pernah lupakan aku jangan hilangkan diriku jangan pernah lupakan aku jangan hilangkan diriku jangan pernah lupakan aku jangan pergi dari aku ‘lyric by nidji In loving memoriam of Ronal (11 Maret 1979 - 21 Sept 2004) 'dedicated to my heart, my love, and my soul ”Education, therefore, is a process of living and not a preparation for future living.”
Beberapa jam yang lalu, saya baru saja berbincang dengan kakak perempuanku (sebut saja namanya Lili) mengenai pendidikan di Indonesia. Lili yang bekerja sebagai wartawan di sebuah koran berbahasa Inggris di Jakarta baru saja pulang dari Jawa Barat dalam rangka tugas jurnalistiknya. Lili yang idealis dengan berapi-api menceritakan pengalamannya mengobservasi kondisi berbagai sekolah di kawasan pedalaman Jawa. Sebelumnya, Lili sempat mengobservasi beberapa sekolah internasional di Jakarta. Dia menyimpulkan betapa tragisnya nasib sekolah-sekolah yang berada di daerah pedalaman di Indonesia. Kondisi sekolah-sekolah tersebut sangatlah mengenaskan menurutnya, baik itu dari segi infrastruktur bangunan maupun kualitas pengajaran yang diberikan. Nasib anak-anak sekolah di pedalaman Jawa tersebut sangatlah kontras dengan anak-anak sekolah internasional di Jakarta yang notabene biaya pendidikan saja bisa mencapai Rp.300juta/tahun. Saya kembali ingat kejadian 5 tahun lalu saat masih duduk di bangku SMA di Pontianak. Saya dan beberapa teman sedang makan di suatu restaurant saat kami mendengar beberapa anak sekolah dasar berjalan memasuki restaurant sambil mengobrol dalam bahasa Inggris dengan aksen British-nya yang kental. Well, saya takjub mendengarnya. Anak-anak kecil tersebut merupakan murid dari suatu sekolah internasional yang baru saja berdiri di Pontianak saat itu. Biaya sekolah yang mahal, gedung sekolah yang megah, berbagai fasilitas yang mewah seperti kolam renang, gym, dsb, berikut para native teacher yang didatangkan langsung dari Inggris membuat sekolah internasional tersebut menjadi teramat eksklusif. Sangat kontras dengan sekolah-sekolah lainnya yang ada di Pontianak. Well, saat itu sekolah bilingual memang sedang in di Pontianak. Setiap orang tua seakan-akan berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sekolah internasional. Stereotip yang terjadi saat itu rasanya lebih dilatar-belakangi oleh persaingan dalam hal prestis antar masyarakat menengah ke atas di kota kecil. Tapi saya tidak dapat men-judge suatu penilaian buruk pada para orang tua yang berusaha memberikan fasilitas terbaik bagi anaknya, karena hal serupa mungkin juga akan kulakukan bila suatu hari saya diberkahi dengan buah hati. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kelas sosial tampaknya menjadi penentu dari kualitas edukasi yang diterima seorang anak. Saya sendiri sempat bersekolah di beberapa jenis sekolah. Dari SD sampai SMP, saya bersekolah di suatu sekolah yang murid-muridnya cenderung berasal dari kelas ekonomi menegah ke atas. Saya bersekolah di sekolah favorit Pontianak saat itu. Disiplin tinggi dan ketatnya persaingan pendidikan menjadi ciri khas dari sekolah tersebut. SMP ku terkenal sebagai sekolah yang elit di Pontianak. Saat beranjak ke SMA, saya lebih memilih masuk ke suatu sekolah yang kontras dengan dengan sekolah saya sebelumnya. Kenakalan puber saat itu membuatku lebih memilih masuk ke sekolah dengan kesadaran disiplin yang sangat minim. Lingkungan pergaulanku pun langsung berubah sekejap mata. Murid-murid SMA ku saat itu umumnya merupakan warga keturunan Tionghoa yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Banyak dari mereka yang berasal dari daerah pinggiran kota maupun pedalaman Kalimantan yang merantau ke Pontianak untuk melanjutkan studi. Bahkan banyak dari mereka yang tidak lancar berbahasa Indonesia, mereka terbiasa berbicara dalam beragam bahasa ibu dari suku tionghoa. SMA ku terkenal sebagai sekolah siang yang identik dengan keberingasan dan kebandelan siswa-siswanya. Bahkan sebagian besar siswa lelaki di SMA ku selalu membawa senjata tajam ke sekolah. Latar belakang keluarga yang berasal dari kelas menengah ke bawah mungkin membuat sebagian besar dari teman-teman SMA ku menjalani hidup yang keras. Kemampuan ekonomi yang lemah sampai kekerasan domestik keluarga mungkin telah membuat mereka menjadi pribadi yang keras. Banyak teman SMA ku yang putus sekolah karena masalah biaya maupun masalah lainnya. Selain itu banyak dari teman-teman lain yang tidak melanjutkan studi ke bangku universitas. Bahkan saya mempunyai seorang sahabat baik perempuan yang terpaksa masuk ke dalam dunia prostitusi demi menafkahi orang tua dan adik-adiknya. Latar belakang kelas sosial mungkin menjadi penyebab kurangnya kesadaran mereka akan pentingnya edukasi.
Kondisi SMA ku saat itu sangat lah buruk. Fisik bangunan sekolahnya saja sangat mengkhawatirkan. Bangunan peninggalan zaman Belanda itu rasanya tidak sanggup menampung ratusan siswa di dalamnya. Kualitas pengajarannya pun sangatlah jauh dari bagus. Guru-guru di sekolahku tidak mempunyai mental dan kualifikasi yang cukup untuk mengajar rasanya. Namun, rasanya tidak adil bila saya menyalahkan mereka. Gaji guru yang sangat rendah di sekolahku tidak dapat membuatku menuntut sesuatu yang lebih dari kemampuan yang dapat mereka tawarkan. Biaya sekolah (SPP) yang saya bayar pun cenderung sangatlah murah untuk mendapat edukasi yang bermutu. SPP sebulanku tidak lebih dari Rp.75rb. Sangat kontras dibandingkan dengan biaya ratusan juta per tahun yang harus dikeluarkan oleh anak dari suatu sekolah internasional. Rasanya saya memang tidak berhak menuntut kualitas yang lebih dari sekolah tersebut. Tapi saya selalu percaya akan suatu hal : kualitas pendidikan bukanlah ditetapkan dari fasilitas yang ditawarkan sekolah ataupun mutu pengajaran yang diberikan oleh seorang guru yang intelektual. Kualitas pendidikan seorang anak tidak hanya ditetapkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan nilai akademis saja, walaupun saya tidak dapat menyangkal bahwa nilai akademis memang merupakan aspek penting dalam pendidikan. Namun ada satu hal yang paling penting dari hal-hal tersebut yaitu pengembangan karakter diri. Saya belajar banyak dari melihat bagaimana kelas sosial sangat berperan dalam menentukan perilaku dan watak seseorang. Saya belajar banyak dari berbagai pengalaman yang saya alami saat SMA. Saya belajar banyak dari melihat bagaimana kerasnya kehidupan yang harus dijalani teman-temanku. Saya belajar arti dari suatu perjuangan hidup yang harus kita jalani.
Saya sendiri tidak datang dari keluarga yang kaya raya. Namun, sejauh ini saya dapat hidup lebih dari cukup. Semenjak kecil, ayah selalu mendidikku dengan menerapkan konsep akan betapa pentingnya pendidikan bagi pengembangan diri setiap orang. Ayahku memang cenderung berbeda dengan banyak pria konservatif seusianya. Banyak orang yang menganggap bahwa pendidikan bagi seorang perempuan tidaklah penting dan kodrat tidak menuntut para perempuan untuk bersekolah tinggi. Konsep pemikiran ini masih banyak dianut oleh keluarga-keluarga keturunan tionghoa di Pontianak yang umumnya masih cenderung konservatif. Saya bersyukur ayah tidak menerapkan pola pemikiran itu kepada tiga putrinya. Terlebih saya bersyukur dapat memetik hikmah dari semua ini. Saya berpendapat semua anak dari sekolah pedalaman dengan kualitas minim tidak harus bersedih, minder, dan kecewa. Banyak nilai hidup yang dapat dipelajari dari hal-hal yang menimpa kita maupun sekeliling kita. Nilai-nilai hidup seperti itu membantu tiap individu untuk belajar agar dapat survive dalam roda kehidupan. Dan saya yakin pengalaman seperti itu tampaknya kurang bisa dirasakan oleh sebagian besar anak-anak yang terbiasa dengan kemewahan bersekolah di sekolah internasional. “Sometimes, struggles are exactly what we need in our life. If we were to go through our life without any obstacles, we would be crippled. We would not be as strong as what we could have been. Give every opportunity a chance, leave no room for regrets.” | Start: | Feb 29, '08 11:00p | | Location: | vertigo - xlounge |
MAKE SOME NOISE !!!! dance till u drop.... drink till u get killed... well not a good recommendation though LOL I luv Gorrilaz. Permainan music mereka sangatlah imajinatif. Lihat saja personel bandnya yang sedikit fiktif. 1 kata doank : 'cool' | Tomorrow Comes Today | | Gorillaz | | Gorillaz | |
THE WEAKNESS IN ME I'm not the sort of person who falls in and quickly out of love But to you, I give my affection, right from the start. I have a lover who loves me - how could I break such a heart? Yet still you get my attention. Why do you come here, when you know I've got troubles enough? Why do you call me, when you know I can't answer the phone? And make me lie when I don't want to, And make someone else some kind of an unknowing fool? Make me stay when I should not? If you're so strong then resolve the weakness in me. Why do you come here, and pretend to be just passing by? I need to see you - I need to hold you - tightly. Feeling guilty, And I'm worried, and I'm waking from a tormented sleep 'Cause this old love, you know it has me bound, But this new love cuts so deep. If I choose now, I'm bound to lose out; One of you is gonna have to fall... I need you, baby. Why do you come here, when you know I've got troubles enough? Why do you call me, when you know I can't answer the phone? And make me lie when I don't want to, And make someone else some kind of an unknowing fool? Make me stay when I should not? If you're so strong then resolve the weakness in me. Why do you come here, and pretend to be just passing by? I need to see you - I need to hold you - tightly. ‘Song by Joan Armatrading
~ Lady ~ "She walks in beauty, Like the night of cloudless climes and starry skies; And all that's best of dark and bright Meet in her aspect and her eyes. Her voice makes me tremble inside And her smile is an invitation For my imagination to go wild.” ‘Linda  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Pramoedya Ananta Toer |
Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang sastrawan Indonesia yang luar biasa. Karya-karyanya selalu memukau pemikiranku. Sebagai seorang pemerhati masalah feminism, saya sangat mengagumi cara beliau menggambarkan kehidupan seorang wanita. Deskripsi dan cara pandangnya akan kaum perempuan sangatlah tajam. Anda dapat menemukan banyak sisi humanis dan feminis dalam cerita. Kemasan literatur sastra yang apik membuatku semakin menggilai karya-karyanya.
‘Gadis Pantai’ menceritakan perjalanan hidup seorang wanita yang lahir di sebuah kampung nelayan di dekat kota Rembang, pantai utara Jawa. Gadis Pantai mengisahkan nasib seorang perempuan yang dinikahkan secara paksa oleh orang tuanya kepada seorang Bendoro. Kisah berlangsung pada awal abad ke-20 dan menggambarkan hal-hal masyarakat pada saat itu. Memang masih ada perbedaan antara golongan-golongan sekarang juga, tetapi pada waktu itu orang biasa tidak punya hak apapun dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Pramoedya Ananta Toer melukiskan keadaan dan suasana baik kota baik kampung dengan tajam. Penjelasan sifat dan pikiran-pikiran tokoh dan lingkungannya membuat pembaca sempat mengenal mereka seolah-olah dalam kenyataan. Bahasanya sangatlah deskriptif, namun buku ini tidak sulit untuk dibaca karena ada banyak dialog dan ceritanya menggairahkan. Karya-karya Pramoedya selalu dipenuhi dengan idealisme dan konsep penulisannya terkenal dengan pendekatan realisme-sosialis. Pramoedya memang kerap menerbitkan sejumlah karya berkelas "sastra Nobel". Gadis Pantai merupakan salah satu karya favoritku dari sastrawan kontroversial Pramoedya Ananta Toer.
  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
This movie is SPECTACULAR. Gw nonton nih film udah puluhan kali rasanya. Salah satu film terpanjang yang pernah kulihat, yup dibagi ke dalam 2 bagian part I and part II. Ini satu-satunya film yang bisa membuatku benar-benar merasakan secara mental penderitaan seorang rakyat menghadapi perang (Civil War). Film ini dibuat thn 1939, bayangkan bokap gw aza blm lahir saat itu. Film klasik terkeren dari segi penceritaannya. Nonton film ini bisa membuatku merasakan penderitaan, ketabahan, kenaifan, dan keegoisan seorang Scarlett O'hara dalam melindungi keluarganya dan merebut cintanya. Ini satu-satunya film yang bisa membuatku nangis selain film Armageddon sih hehe... Gw benar-benar mengagumi kecantikan dan gaya lakon aktris Vivien Leigh sbg Scarlett. She is sophisticated flawless. Menonton film ini dari awal, dari Scarlett kecil sampai dia akhirnya kawin cerai kawin cerai bbrp kali sampai she ended up married to Clark Gable yang awalnya tidak ia cintai membuatku berpetualang menjalani hidup seorang Scarlett yang penuh perjuangan. Latar belakang masa perang yang Scarlett alami memberikan warna yang tidak pernah dpt digambarkan dengan tepat oleh film-film lain yang berlatar sama. Bagaimana Scarlett sbg seorang perempuan dari kasta sosial kelas atas yang berjuang mempertahankan citra dirinya memang sungguh-sungguh menyentuh hati untuk disaksikan. Tapi bagian yang paling memukau tetap pada cerita bagaimana seorang Scarlett berjuang mencari cinta, yang ternyata dia temukan pada Rhett. Sayangnya akhir film cerita ini ngambang. Tidak ada kepastian bahwa Scarlett akan mendapatkan cintanya kembali T_T.... But afterall sejauh ini Gone With The Wind adalah satu-satunya film drama yang paling ok bagiku. 
| |